Perang Dunia 1
Perang Dunia I (juga dinamakan Perang Dunia Pertama, dan
nama dalam bahasa Inggris lainnya: Great War, War of the Nations, dan "War
to End All Wars" (Perang untuk Mengakhiri Semua Perang) adalah sebuah
konflik dunia yang berlangsung dari 1914 hingga 1918.
Latar belakang :
1.
Peristiwa penembakan putra Mahkota Austria,
Franz Ferdinand, oleh anggota gerakan Serbia Raya. Penembakan itu terjadi pada
tanggal 28 Juni 1914 di Sarajevo (Bosnia Herzegovina).
2.
Timbulnya persekutuan militer
Rasa takut dari beberapa Negara akan
ancaman dari Negara sainganya menimbulkan usaha mencari kawan. Dengan demikian,
terbentuklah Triple Alliance yang terdiri dari Jerman, Austria, dan Italia.
Ketiga Negara ini sering disebut Negara Sentral sebab letak Negaranya di tengah
Eropa. Selain itu terbentuk juga Triple Entente yang terdiri dari Inggris,
Prancis, dan Rusia. Ketiga Negara anggota persekutuan ini disebut Negara Sekutu
(Allied Power).
3.
Perlombaan senjata
4.
Persaingan merebut daerah sumber bahan baku,
penanaman modal, dan daerah pemasaran.
Dalam kurun waktu yang amat singkat,
hasutan setelah peristiwa ini menyeret seluruh benua Eropa ke dalam kancah
peperangan. Pertama, Austria-Hungaria menyatakan perang kepada Serbia. Rusia,
sekutu abadi bangsa Serbia kemudian menyatakan perang terhadap
Austria-Hungaria.
Lalu satu demi satu, Jerman, Inggris, dan
Prancis, memasuki peperangan. Sumbu sudah dinyalakan.
Bahkan sebelum perang dimulai, Dewan Jenderal
Jerman telah membuat rencana dan memutuskan untuk menguasai Prancis melalui
serangan mendadak. Untuk mencapai tujuan ini, orang-orang Jerman memasuki
Belgia dan kemudian melintasi perbatasan memasuki Prancis. Menanggapi dengan
cepat, pasukan Prancis menghentikan pasukan Jerman di tepi Sungai Marne dan
memulai suatu serangan balik.
Peperangan Parit
Perang Dunia menjadi terkenal dengan
peperangan parit perindungannya, di mana sejumlah besar tentara dibatasi
geraknya di parit-parit perlindungan dan hanya bisa bergerak sedikit karena
pertahana yang ketat. Ini terjadi khususnya terhadap Front Barat. Lebih dari 9
juta jiwa meninggal di medan perang, dan hampir sebanyak itu juga jumlah warga
sipil yang meninggal akibat kekurangan makanan, kelaparan, pembunuhan massal,
dan terlibat secara tak sengaja dalam suatu pertempuran.
Perang parit menjadi strategi utama Perang
Dunia Pertama. Selama beberapa tahun berikutnya, bisa dikatakan para serdadu
hidup dalam parit-parit ini. Kehidupan di sana benar-benar sulit. Para prajurit
hidup dalam ancaman terus-menerus dibom, dan mereka tak henti-hentinya
menghadapi ketakutan dan ketegangan yang luar biasa. Mayat mereka yang telah
tewas terpaksa dibiarkan di tempat-tempat ini, dan para serdadu harus tidur di
samping mayat-mayat tersebut. Bila turun hujan, parit-parit itu dibanjiri lumpur.
Lebih dari 20 juta serdadu yang bertempur di
Perang Dunia I mengalami keadaan yang mengerikan di dalam parit-parit ini, dan
sebagian besar meninggal di sana. Dalam beberapa minggu setelah dimulai oleh
serangan Jerman pada tahun 1914, garis barat perang ini sebenarnya terpaku di
jalan buntu. Para serdadu yang bersembunyi di parit-parit ini terjebak dalam
jarak yang hanya beberapa ratus meter jauhnya satu sama lain. Setiap serangan
yang dilancarkan sebagai upaya mengakhiri kebuntuan ini malah menelan korban jiwa
yang lebih banyak.
Strategi Jerman
Di awal tahun 1916, Jerman mengembangkan rencana baru untuk
mendobrak garis barat. Rencana mereka adalah secara mendadak menyerang kota
Verdun, yang dianggap sebagai kebanggaan orang Prancis. Tujuan penyerangan ini
bukanlah memenangkan perang, melainkan menimbulkan kerugian yang besar di pihak
Tentara Prancis sehingga melemahkan perlawanan mereka. Kepala staf Jerman
Falkenhayn memperkirakan bahwa setiap satu serdadu Jerman saja dapat membunuh
tiga orang serdadu Prancis.
Serangan dimulai pada tanggal 21 Febuari. Para pemimpin
Jerman memerintahkan serdadunya untuk "keluar dari parit mereka,"
namun tiap serdadu yang melakukannya justru telah tewas atau sekarat dalam
sekitar tiga menit. Meskipun penyerangan berlangsung tanpa henti selama
berbulan-bulan, Jerman gagal menduduki Verdun.
Secara keseluruhan, kedua pihak kehilangan sekitar satu juta
serdadu. Dan dengan pengorbanan itu, garis depan hanya berhasil maju sekitar 12
kilometer. Satu juta orang mati demi selusin kilometer.
Balasan Inggris
Inggris membalas serangan Jerman di Verdun dengan Pertempuran Somme. Pabrik-pabrik di Inggris membuat ratusan ribu selongsong meriam.
Rencana Jendral Douglas Haig mendorong Pasukan Inggris untuk
menghujani dengan pengeboman terus-menerus selama seminggu penuh, yang diikuti
dengan serangan infanteri. Dia yakin mereka akan maju sejauh 14 kilometer di
hari pertama saja dan kemudian menghancurkan semua garis pertahanan Jerman
dalam satu minggu.
Serangan dimulai pada tanggal 1 Juni. Pasukan meriam Inggris
menggempur pertahanan Jerman selama seminggu tanpa henti. Di akhir minggu
tersebut, para perwira Inggris memerintahkan serdadunya memanjat keluar dari
parit. Namun, selama pengeboman tersebut para serdadu Jerman berlindung dengan
rapat di kedalaman parit persembunyian mereka sehingga tidak terlumpuhkan dan
menggagalkan rencana Inggris. Begitu serdadu Inggris bergerak melintasi garis
depan, serdadu Jerman muncul menyerang mereka dengan senapan mesinnya. Sejumlah
total 20.000 serdadu Inggris tewas dalam beberapa jam pertama perang tersebut.
Di dalam kegelapan malam itu, daerah di antara dua garis pertempuran penuh
dengan puluhan ribu mayat dan juga serdadu yang terluka, yang mencoba merangkak
mundur.
Pertempuran Somme tidak berlangsung dua minggu
seperti yang direncanakan Jendral Haig, melainkan lima bulan. Bulan-bulan ini
tidak lebih daripada pembantaian. Para jendral bertubi-tubi mengirimkan
gelombang demi gelombang serdadu mereka menuju kematian yang telah pasti. Di
akhir pertempuran, kedua belah pihak secara keseluruhan telah kehilangan
900.000 prajuritnya. Dan untuk ini, garis depan bergeser hanya 11 kilometer.
Para serdadu ini dikorbankan demi 11 kilometer saja.
Akhir perang
Kekalahan Jerman di Front Barat mengakibatkan kehidupan
rakyat semakin bertambah susah. Keadaan Jerman seperti ini menimbulkan gerakan
dari kaum komunis (spartacis) yang hendak menggulingkan pemerintahan. Jerman
menghadapi serangan dua kali yaitu dari pihak sekutu dan pemberontakan dari
kaum komunis. Karena serangan itu Jerman terpaksa menyerah pada tahun 1918.
Sementara itu di Austria timbul pemberontakan-pemberontakan
yang dilakukan oleh kaum komunis dan kaum Slavia, yang mengakibatkan Kaisar
Karl (pengganti Kaisar Frans Joseph II) terpaksa turun takhta tahun 1918
sehingga Austria-Hongaria menjadi republik.
Setelah Perang Dunia I berakhir, baik negara-negara yang
menang perang maupun yang kalah perang sibuk mengadakan perjanjian-perjanjian
damai seperti : Perjanjian Versailles, Perjanjian St.Germain, Perjanjian
Neuilly, Perjanjian Trianon, dan Perjanjian Sevres.
Pada tahun 1918, Perang Dunia I akhirnya
berakhir, setelah empat tahun serangan tanpa guna di tangan tentara Jerman,
Prancis, dan Inggris. Namun perdamaian ini, yang dinyatakan pada jam 11 pagi,
hari kesebelas dari bulan kesebelas, tidak membawa kebahagiaan untuk siapa pun.
Ratusan ribu serdadu menjadi cacat. Sebagian lainnya terbukti tidak mampu
mengatasi dampak kejiwaan karena perang setelah tinggal di dalam parit yang
penuh dengan lumpur, kotoran, dan mayat. Bentuk trauma yang dikenal sebagai
“shell shock” atau “kejutan bom” sangat umum di antara para veteran perang, dan
hal ini menyebabkan penderitanya mengalami serangan ketakutan dan goncangan
yang berat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar